Jakarta — Kebutuhan tenaga pemasaran digital di Indonesia terus meningkat seiring makin banyak pelaku UMKM dan korporasi yang mengalihkan anggaran promosi ke kanal daring. Namun di sisi lain, banyak pencari kerja dan pelaku usaha masih kesulitan menavigasi jalur belajar yang tepat, akibat minimnya pemahaman soal skill spesifik apa saja yang benar-benar dicari industri saat ini.
Menurut sejumlah platform riset kompensasi profesional, jenjang karier di bidang ini cukup jelas: posisi entry-level seperti Digital Marketing Associate umumnya berada di kisaran Rp5,5–8,5 juta per bulan, sementara Digital Marketing Manager dengan tanggung jawab lintas kanal bisa mencapai Rp20–35 juta per bulan tergantung skala perusahaan. Rentang ini mencerminkan bagaimana permintaan tidak hanya soal jumlah, tapi juga kedalaman kompetensi — terutama pada kemampuan membaca data (Google Analytics 4), mengelola iklan berbayar multi-platform, dan belakangan, mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam alur kerja pemasaran.
Skill Klasik Saja Tidak Lagi Cukup
Wahyu Dian Purnomo, praktisi pemasaran digital bersertifikasi Google Ads dan Meta yang juga menjabat Chief Educator di Raya School — lembaga pelatihan yang pernah menangani proyek pemasaran digital untuk sejumlah institusi termasuk PwC Indonesia dan PT Schaeffler Bearing Indonesia — menilai pergeseran ini nyata di lapangan.
“Banyak pencari kerja masih berhenti di kemampuan dasar seperti membuat konten atau memasang iklan sederhana. Padahal yang dicari perusahaan sekarang adalah kemampuan menyusun arsitektur funnel, membaca atribusi data, dan mengefisienkan anggaran iklan lewat otomatisasi,” ujar Wahyu.
Ia menambahkan bahwa integrasi AI dalam riset kata kunci, produksi materi promosi, hingga smart-bidding pada platform iklan kini menjadi pembeda antara kandidat yang sekadar paham teori dengan yang siap kerja.
Jalur Belajar: Otodidak vs Terstruktur
Bagi pemula, tantangan utama bukan soal akses informasi — materi digital marketing tersedia luas dan gratis di berbagai platform seperti YouTube maupun program sertifikasi resmi Google Skillshop dan Meta Blueprint. Tantangan sesungguhnya ada pada minimnya evaluasi dan pendampingan saat praktik nyata, sehingga proses belajar mandiri kerap memakan waktu lebih lama sebelum benar-benar siap dipakai untuk kebutuhan bisnis atau melamar kerja.
Kondisi ini yang mendorong sejumlah lembaga pelatihan menghadirkan format belajar terstruktur dengan pendampingan mentor dan studi kasus langsung, alih-alih sekadar kelas teori. Salah satu contohnya adalah program pelatihan pemasaran digital di Raya School, lembaga kursus yang berbasis di Jakarta Timur dan telah menjalankan program serupa sejak 2021.
Program semacam ini umumnya menggabungkan modul dasar (riset pasar, SEO, iklan berbayar) dengan praktik lanjutan seperti otomasi pemasaran dan analitik data — kombinasi yang menurut riset kompensasi di atas berkorelasi dengan jenjang karier yang lebih tinggi.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memilih Kursus
Bagi yang berencana mengambil pelatihan digital marketing, ada beberapa hal yang layak dicek terlebih dahulu:
- Rekam jejak instruktur — apakah punya sertifikasi resmi platform (Google, Meta) dan pengalaman menangani klien nyata, bukan hanya sertifikat mengajar.
- Porsi praktik vs teori — program yang baik biasanya memberi ruang besar untuk eksekusi kampanye nyata, bukan sekadar slide presentasi.
- Transparansi klaim hasil — waspadai program yang menjanjikan hasil instan tanpa penjelasan metodologi di balik angka yang dipromosikan.
Kebutuhan tenaga digital marketing bersertifikasi diperkirakan akan terus tumbuh seiring makin banyak bisnis — dari UMKM hingga korporasi — yang bergantung pada kanal digital sebagai sumber pertumbuhan utama. Namun sebagaimana tren keahlian teknis lainnya, kualitas jalur belajar yang dipilih akan sangat menentukan seberapa cepat seseorang bisa benar-benar mempraktikkan skill tersebut di dunia kerja atau bisnis nyata.





