Garudatimes.com – Sejarah bemo di Indonesia merupakan bagian penting dari perkembangan transportasi perkotaan Tanah Air. Kendaraan roda tiga bermotor ini pernah menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga Denpasar.
Meski kini keberadaannya semakin langka, bemo tetap menyimpan nilai historis dan budaya yang kuat. Artikel ini mengulas secara lengkap asal-usul bemo, perkembangan di Indonesia, regulasi pemerintah, hingga eksistensinya di era transportasi modern.
Apa Itu Bemo?
Bemo adalah kendaraan bermotor roda tiga yang digunakan sebagai angkutan umum. Secara umum, bemo memiliki kabin kecil dengan kapasitas 6–8 penumpang.
Di beberapa daerah, istilah “bemo” digunakan untuk menyebut berbagai jenis kendaraan roda tiga, termasuk yang berbasis motor skuter.
Nama “bemo” diyakini berasal dari singkatan “becak motor”, meski secara teknis bentuknya berbeda dari becak tradisional.
Awal Mula Sejarah Bemo di Indonesia
Sejarah bemo di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perhelatan olahraga internasional. Pada awal 1960-an, pemerintah Indonesia mendatangkan kendaraan roda tiga dari Jepang untuk mendukung mobilitas saat penyelenggaraan Asian Games 1962 di Jakarta.
Salah satu kendaraan yang populer kala itu adalah produksi Daihatsu, yaitu model Midget. Kendaraan ini kemudian dikenal luas oleh masyarakat sebagai bemo.
Setelah ajang tersebut selesai, kendaraan-kendaraan tersebut dialihkan menjadi angkutan umum. Sejak saat itulah bemo mulai berkembang pesat sebagai transportasi rakyat.
Masa Kejayaan Bemo (1960–1980-an)
Pada era 1970-an hingga awal 1980-an, bemo menjadi primadona transportasi perkotaan. Beberapa faktor yang membuat bemo populer antara lain:
- Harga operasional relatif murah
- Mampu menjangkau gang sempit
- Cocok untuk jarak dekat
- Fleksibel dalam sistem trayek
Di Jakarta, bemo pernah menjadi ikon transportasi sebelum akhirnya tergantikan oleh mikrolet dan angkot. Bahkan, pada masa pemerintahan Ali Sadikin, penataan transportasi kota mulai dilakukan secara lebih terstruktur.
Namun seiring pertumbuhan jumlah kendaraan dan kebutuhan transportasi yang lebih modern, bemo mulai dianggap tidak lagi efisien.
Kebijakan Penghapusan Bemo di Jakarta
Memasuki akhir 1980-an hingga 1990-an, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara bertahap menghapus operasional bemo dari jalanan ibu kota. Alasan utamanya meliputi:
- Faktor keselamatan
- Tingkat polusi
- Kemacetan lalu lintas
- Modernisasi transportasi
Sebagai gantinya, pemerintah mendorong penggunaan mikrolet, metromini, dan angkutan kota (angkot) yang dinilai lebih layak.
Sejak saat itu, bemo perlahan menghilang dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya
Eksistensi Bemo di Indonesia Saat Ini
Meski telah hilang dari Jakarta, bemo masih bertahan di beberapa daerah, terutama sebagai:
1. Transportasi Lokal
Di beberapa wilayah seperti Bali dan sebagian Indonesia Timur, bemo masih digunakan untuk jarak pendek.
2. Daya Tarik Wisata
Di Denpasar dan kawasan wisata Bali lainnya, bemo kerap dimodifikasi dengan warna mencolok dan dijadikan kendaraan wisata.
3. Simbol Budaya dan Nostalgia
Bemo kini lebih sering dipandang sebagai ikon sejarah transportasi Indonesia. Beberapa unit bahkan dipelihara sebagai koleksi atau properti film bertema era 1970-an.
Bagi peneliti sejarah transportasi dan perkembangan kota, bemo menjadi bagian penting dari dinamika urbanisasi Indonesia. Kendaraan ini mencerminkan:
- Perubahan pola mobilitas masyarakat
- Kebijakan transportasi pemerintah
- Adaptasi teknologi asing ke konteks lokal
Sebagai negara berkembang, Indonesia mengalami fase unik dalam modernisasi transportasi, dan bemo menjadi salah satu simbol transisi tersebut.
Fakta Unik Tentang Bemo
- Bemo awalnya berwarna biru di Jakarta.
- Mesin yang digunakan berkapasitas kecil, sekitar 250–300 cc.
- Di beberapa daerah, istilah bemo digunakan untuk menyebut ojek roda tiga.
- Beberapa model awal diimpor langsung dari Jepang tanpa perakitan lokal.
Sejarah bemo di Indonesia adalah kisah tentang perubahan zaman. Dari kendaraan pendukung ajang olahraga internasional hingga menjadi tulang punggung transportasi rakyat, bemo pernah memainkan peran vital dalam kehidupan masyarakat perkotaan.
Kini, meski eksistensinya terbatas, bemo tetap hidup dalam ingatan kolektif dan menjadi simbol nostalgia era 1960–1980-an.
Bagi generasi muda, memahami sejarah bemo bukan sekadar mengenang kendaraan lama, tetapi juga memahami perjalanan sistem transportasi Indonesia menuju modernitas.



